Bukan Fiksi

Catatan seorang wanita yang BAHAGIA

KONSERVASI SUMBERDAYA LAHAN DI KAWASAN PEGUNUNGAN SINDORO-SUMBING DAN SOLUSI MANAGEMENNYA

leave a comment »

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang

Gunung Sindara, atau yang biasa disebut Sindoro, atau juga Sundoro (altitudo 3.150 meter di atas permukaan laut) merupakan sebuah gunung volkano aktif yang terletak di Jawa Tengah, Indonesia, dengan Temanggung sebagai kota terdekat. Gunung Sindara terletak berdampingan dengan Gunung Sumbing. Gunung Sumbing mempunyai ketinggian setinggi 3.371 meter. Gunung ini terletak di tiga kabupaten yakni kabupaten Magelang, Temanggung, dan Wonosobo. Di puncaknya, gunung ini mempunyai kawah yang masih aktif.

Kawasan Gunung Sindoro-Sumbing memiliki kondisi topografis yang didominasi oleh pegunungan dan perbukitan dengan sebaran lahan beruba kawasan hutan produksi, hutan rakyat, dan hutang lindung. Gunung Sindoro dan Sumbing mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan hutan Ericaceous atau hutan gunung. Namun, sebagian besar wilayah di gunung ini telah digunakan untuk lahan pertanian. Ribuan hektar hutan yang berada di kawasan tersebut telah habis dan rusak dijarah oleh masyarakat di sekitarnya. Sedangkan budidaya tanaman yang dilakukan oleh masyarakat disana masih belum diikuti dengan penerapan teknik konservasi yang baik. Pola intensifikasi pertanian belum sepenuhnya dilakukan oleh masyarakat karena keterbatasan pengetahuan dan kemampuan pembiayaan.

Tembakau merupakan salah satu tanaman komoditas pertanian yang dijadikan andalan dalam peningkatan kualitas perekonomian masyarakat di sekitar kawasan Gunung Sindoro-Sumbing. Masih adanya permintaan pasar dan budaya pola tanam menyebabkan jenis komoditas ini masih terus dikembangkan dan dibudidayakan di kawasan Gunung tersebut selain tanaman sayur-sayuran. Pengembangan tembakau makin meluas ke arah puncak Gunung Sumbing yang memiliki lereng yang curam (>40%). Tanaman ini telah diusahakan selama berpuluh tahun silam secara turun temurun. Disatu sisi pengembangan tembakau perlu terus ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan domestik dan ekspor, disisi lain dengan makin bertambahnya penduduk dan makin terfragmentasinya kepemilikan lahan akibat sistem bagi waris, otomatis dibutuhkan lahan yang lebih luas untuk perluasan areal tanam. Salah satu caranya dengan membuka lahan mengarah ke puncak gunung. Lahan tersebut milik negara, berupa hutan produksi dan sebagian termasuk hutan lindung. Lahan berlereng curam ini tidak hanya ditanami tembakau, tetapi juga jagung tanpa disertai penerapan teknologi konservasi tanah.

Pelaku pembabatan hutan yang lain adalah petani kentang yang berusaha mencari lahan pertanian baru karena lahan pertanian lama sudah tidak subur lagi. Penurunan kesuburan tersebut disebabkan penggunaan bahan-bahan kimia (obat-obatan serta pupuk anorganik) secara over dosis ataupun tidak sesuai dengan petunjuk pemakaian. Kesuburan tanah yang menurun menyebabkan produksi pertanian mereka juga turun. Akhirnya kawasan hutan yang seharusnya kawasan lindung dan juga merupakan daerah tangkapan air hujan (catchment area) dibuka dan digunakan sebagai lahan pertanian.

Padahal, telah kita ketahui bahwa hutan memiliki potensi dan fungsi untuk menjaga keseimbangan lingkungan. Potensi dan fungsi tersebut mengandung manfaat bagi populasi manusia bila dikelola secara benar dan bijaksana. Kelestarian manfaat yang timbul karena potensi dan fungsi didalamnya dapat diwujudkan selama keberadaannya dapat dipertahankan dalam bentuk yang ideal. Hutan juga memberikan pengaruh kepada sumber alam lain. Pengaruh ini melalui tiga faktor lingkungan yang saling berhubungan, yaitu iklim, tanah, dan pengadaan air bagi berbagai wilayah, termasuk wilayah pertanian. Pepohonan hutan juga mempengaruhi struktur tanah dan erosi, jadi mempunyai pengaruh terhadap pengadaan air di lereng gunung.

Hutan yang terletak di sekitar kawasan gunung juga berperan dalam menjaga dan mempertahankan keseimbangan ekologis, keberadaannya sangat bermanfaat bagi kehidupan yang ada di bawah kawasannya. Ketersediaan air yang cukup bagi berbagai macam kebutuhan, kelestarian hasil tanaman produksi melalui kesuburan tanah yang terjaga, dan keamanan fungsi lindung bagi ekosistem disekitarnya merupakan nilai yang ditawarkan dari keberadaan hutan di sekitar kawasan gunung.

Permasalahan yang akhir-akhir ini ditemui, seperti yang ditemukan pada kawasan pegunungan Sindoro-Sumbing adalah menurunnya fungsi dan potensi hutan seiring dengan makin berkurangnya luasan yang dapat dipertahankan. Berbagai aktivitas manusia dilakukan untuk mengubah fungsi hutan secara ekologis menjadi pemanfaatan lahan secara ekonomis. Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan perusakan hutan, namun umumnya faktor-faktor tersebut berkaitan erat dengan praktek-praktek pembangunan dengan sistem produksi yang tidak berkelanjutan. Kerusakan hutan pada umumnya diakibatkan oleh penebangan besar-besaran dan pembukaan lahan untuk perkebunan, transmigrasi, maupun pertambangan. Hal ini tentu saja akan menimbulkan fenomena baru bagi kawasan yang selama ini menggantungkan pada keberadaan hutan.

Keberadaan hutan dalam menjaga keseimbangan lingkungan sangat diperlukan. Fungsi hutan dapat memberikan pengaruh positif bagi lingkungan disekitarnya dan hal ini berkaitan erat dengan fungsi hutan sebagai fungsi lindung terhadap sumber daya alam yang ada disekitarnya. Apabila fungsi ini tidak berjalan sebagaimana mestinya, maka potensi terjadinya bencana alam di lingkungan yang ada dibawahnya sulit dihindari, dan potensi kerusakan lingkungan sulit untuk ditanggulangi. Apabila hutan di lereng gunung habis ditebang, air hujan akan mengalir deras membawa partikel tanah permukaan, yang kemudian bercampur menjadi lumpur. Keadaan bisa semakin parah, jika air yang mengalir dari lereng gunung tanpa rintangan, lalu menimbulkan banjir. Banjir mempunyai daya kekuatan yang besar untuk menghanyutkan lapisan humus pada permukaan tanah pertanian. Ini berarti menghanyutkan bagian terpenting daripada komponen tanah yang menjamin produktivitas biologi tanah pertanian tersebut.

Kawasan Gunung Sindoro-Sumbing dengan aset sumber daya alam hayati yang berada di dalamnya memiliki peran penting. Keterkaitan manfaat tersebut berkesinambungan dalam sebuah proses yang menjaga kestabilan fungsi lingkungan. Aset-aset tersebut dalam menciptakan manfaat saling berkaitan menjadi sebuah kawasan penyangga kehidupan disekitarnya. Manfaat yang diperoleh dari hasil penyatuan komponen pembentuknya memberikan arti penting dalam keberadaan komunitas populasi mahluk hidup yang ada disekitarnya. Hal-hal yang menjadi faktor strategis dalam menunjang kehidupan mulai dari kestabilan pola tata air, kesuburan lahan, kestabilan hasil produksi tanaman, perbaikan kualitas iklim mikro, dan perlindungan terhadap faktor alami perusak.

Keberadaan kawasan Gunung Sindoro-Sumbing sebagai kawasan yang diharapkan mampu menjaga stabilitas fungsi disekitarnya dan eksistensi populasi penduduk yang berada di bagian bawahnya semakin diragukan. Proses perusakan lahan yang dilakukan secara terus menerus telah menimbulkan kondisi kritis pada beberapa kawasan. Tuntutan ekonomi dan peluang pasar terhadap komoditas non kehutanan telah mengesampingkan pola pengelolaan dan pemanfaatan yang lestari.

1.2 Dampak Kerusakan Sumberdaya Lahan

Pembabatan hutan lindung yang terjadi di kawasan Gunung Sindoro-Sumbing tersebut membawa dampak cukup berarti saat ini, antara lain:

a.Terjadinya erosi

Erosi adalah peristiwa pengikisan padatan (sedimen, tanah, batuan, dan partikel lainnya) akibat transportasi angin, air atau es, karakteristik hujan, creep pada tanah, dan material lain di bawah pengaruh gravitasi, atau oleh makhluk hidup semisal hewan yang membuat liang, dalam hal ini disebut bio-erosi. Erosi yang lazim terjadi di negara tropis seperti Indonesia juga pada kasus di kawasan pegunungan Sindoro-Sumbing ini ialah erosi tanah oleh air.

Erosi sebenarnya merupakan proses alami yang mudah dikenali, namun di kebanyakan tempat kejadian ini diperparah oleh aktivitas manusia dalam tata guna lahan yang buruk, penggundulan hutan, kegiatan pertambangan, perkebunan dan perladangan, kegiatan konstruksi/ pembangunan yang tidak tertata dengan baik, dan pembangunan jalan. Tanah yang digunakan untuk menghasilkan tanaman pertanian biasanya mengalami erosi yang jauh lebih besar dari tanah dengan vegetasi alaminya. Alih fungsi hutan menjadi ladang pertanian meningkatkan erosi, karena struktur akar tanaman hutan yang kuat mengikat tanah digantikan dengan struktur akar tanaman pertanian yang lebih lemah. Bagaimanapun, praktik tata guna lahan yang maju dapat membatasi erosi, menggunakan teknik semisal terrace-building, praktik konservasi ladang, dan penanaman pohon.

Dampak dari erosi adalah menipisnya lapisan permukaan tanah bagian atas, yang akan menyebabkan menurunnnya kemampuan lahan (degradasi lahan). Akibat lain dari erosi adalah menurunnya kemampuan tanah untuk meresapkan air (infiltrasi). Penurunan kemampuan lahan meresapkan air ke dalam lapisan tanah akan meningkatkan limpasan air permukaan yang akan mengakibatkan banjir di sungai. Selain itu butiran tanah yang terangkut oleh aliran permukaan pada akhirnya akan mengendap di sungai (sedimentasi) yang selanjutnya akibat tingginya sedimentasi akan mengakibatkan pendangkalan sungai sehingga akan memengaruhi kelancaran jalur pelayaran.

Erosi dalam jumlah tertentu sebenarnya merupakan kejadian yang alami, dan baik untuk ekosistem. Misalnya, kerikil secara berkala turun ke elevasi yang lebih rendah melalui angkutan air. erosi yang berlebih, tentunya dapat menyebabkan masalah, semisal dalam hal sedimentasi, kerusakan ekosistem dan kehilangan air secara serentak.

Banyaknya erosi tergantung berbagai faktor. Faktor Iklim, termasuk besarnya dan intensitas hujan/ presipitasi, rata-rata dan rentang suhu, begitu pula musim, kecepatan angin, dan frekuensi badai. Faktor geologi termasuk tipe sedimen, tipe batuan, porositas dan permeabilitasnya, serta kemiringn lahan juga dapat mempengaruhi banyaknya erosi. Faktor biologis termasuk tutupan vegetasi lahan, makhluk yang tinggal di lahan tersebut dan tata guna lahan oleh manusia.

Umumnya, dengan ekosistem dan vegetasi yang sama, area dengan curah hujan tinggi, frekuensi hujan tinggi, lebih sering kena angin atau badai tentunya lebih terkena erosi. Sedimen yang tinggi kandungan pasir atau silt, terletak pada area dengan kemiringan yang curam, lebih mudah tererosi, begitu pula area dengan batuan lapuk atau batuan pecah. Porositas dan permeabilitas sedimen atau batuan berdampak pada kecepatan erosi, berkaitan dengan mudah tidaknya air meresap ke dalam tanah. Jika air bergerak di bawah tanah, limpasan permukaan yang terbentuk lebih sedikit, sehingga mengurangi erosi permukaan. Sedimen yang mengandung banyak lempung cenderung lebih mudah bererosi dari pada pasir atau silt. Dampak sodium dalam atmosfir terhadap erodibilitas lempung juga sebaiknya diperhatikan

Faktor yang paling sering berubah-ubah adalah jumlah dan tipe tutupan lahan. Pada hutan yang tak terjamah, mineral tanah dilindungi oleh lapisan humus dan lapisan organik. Kedua lapisan ini melindungi tanah dengan meredam dampak tetesan hujan. Lapisan-lapisan beserta serasah di dasar hutan bersifat porus dan mudah menyerap air hujan. Biasanya, hanya hujan-hujan yang lebat (kadang disertai angin ribut) saja yang akan mengakibatkan limpasan di permukaan tanah dalam hutan. Bila pepohonan dihilangkan akibat kebakaran atau penebangan, derajat peresapan air menjadi tinggi dan erosi menjadi rendah. Kebakaran yang parah dapat menyebabkan peningkatan erosi secara menonjol jika diikuti denga hujan lebat. dalam hal kegiatan konstruksi atau pembangunan jalan, ketika lapisan sampah/ humus dihilangkan atau dipadatkan, derajat kerentanan tanah terhadap erosi meningkat tinggi.

Secara singkat, erosi tanah berpengaruh negatif terhadap produktivitas lahan melalui pengurangan ketersediaan air, nutrisi, bahan organik, dan menghambat kedalaman perakaran. Erosi yang terjadi di kawasan Gunung Sindoro-Sumbing mengalir pada aliran sungai yang bertemu di aliran Sungai Serayu, selanjutnya endapan lumpur masuk ke Bendungan Mrican yang terletak di Kabupaten Banjarnegara. Proses terbawanya sedimen dari aliran sungai yang memberikan kontribusi endapan pada bendungan akan mengakibatkan pendangkalan dan berkurangnya umur/ masa pakai bendungan tersebut.

Erosi yang terjadi di kawasan Sindoro-Sumbing, mengakibatkan tingginya tingkat laju/ bahaya erosi dan juga menyebabkan terjadinya degradasi lahan pada kawasan tersebut. Desa Butuh, Kecamatan Kalikajar dan Desa Sigedang, Kecamatan Kejajar merupakan bagian dari DAS Serayu. Aliran air dari kedua daerah tersebut masuk dalam aliran Sungai Serayu melalui aliran sungai Gono dan sungai Begaluh. Aliran ini akan memberikan kontribusi berupa air maupun kandungan sedimen yang menuju sungai Serayu dan memberikan pengaruh terhadap besarnya laju sedimentasi pada daerah tangkapan waduk Mrican.

b. Terjadinya banjir

Banjir terjadi di Kota Wonosobo terutama di musim hujan. Pada saat musim hujan selalu terjadi genangan yang sangat mengganggu aktifitas kehidupan masyarakat. Kedua dampak di atas adalah imbas yang terjadi akibat munculnya peningkatan debit aliran permukaan dari hulu ke hilir.

Kasus banjir yang sering terjadi di kawasan tersebut merupakan dampak secara langsung akibat pola tekanan kerusakan nilai konservasi di kawasan hutan. Kerusakan sarana infrastruktur dan kerusakan nilai produktivitas lahan menjadi sebuah isu utama yang dipahami oleh masyarakat namun kurang diperhatikan secara benar. Berikut adalah peranan yang dimainkan hutan dalam kaitannya dengan banjir:

1)    Keberadaan hutan mempertahankan tanah pada tempatnya, erosi yang seringkali terjadi setelah penebangan hutan adalah merupakan penyebab utama adanya kaitan antara hutan dan banjir.

2)    Keberadaan hutan memberikan kapasitas tampung air, karena besarnya evapotranspirasi hutan lebih besar daripada jenis tataguna lahan lainnya

3)    Keberadan hutan meningkatkan infiltrasi, gangguan pada permukaan tanah setelah penebangan hutan dalam bentuk bercocok tanam yan tidak mengindahkan kaidah konservasi, pembakaran tumbuhan bawah yang terus menerus atau penggembalaan yang berlebih dapat menurunkan laju infiltrasi dan meningkatkan debit puncak serta besarnya volume air lokal.

c. Kerusakan lingkungan

Kerusakan lingkungan merupakan suatu kondisi dimana lingkungan berada diluar ambang batas toleransi kualitas baik secara fisik maupun fungsi sehingga keberadaannya tidak dapat berlangsung sebagaimana mestinya. Menurut Undang-Undang Nomor 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, definisi perusakan lingkungan hidup adalah tindakan yang menimbulkan perubahan langsung atau tidak langsung terhadap sifat fisik dan atau hayatinya yang mengakibatkan lingkungan hidup tidak berfungsi lagi dalam menunjang pembangunan berkelanjutan.

Kerusakan lingkungan dapat disebabkan oleh berbagai hal yaitu akibat faktor internal (natural disaster) dan faktor eksternal (error threatment). Faktor internal dimungkinkan terjadi karena perubahan dalam lingkungan itu sendiri dan sifatnya alami sehingga prosesnya dapat diterima sebagai suksesi yang wajar dan terkendali, contohnya kerusakan lingkungan pasca bencana alam gunung meletus. Dalam hal ini manusia diluar tanggungjawab manusia, dan sifatnya bersiklus. Faktor eksternal dimungkinkan terjadi karena salah dalam mengelola potensi dan memanfaatkan fungsi yang dimiliki oleh lingkungan, sehingga prosesnya harus melalui suksesi yang dikendalikan, contohnya kerusakan lingkungan akibat penggalian bahan tambang yang berlebihan di areal rawan bencana. Faktor yang terakhir ini peran manusia sangatlah dominan dan periodenya sangat fluktuatif mengikuti pola kesadaran manusia akan fungsi lingkungan.

Model pengelolaan yang kurang bijaksana yang telah dilaksanakan di kawasan pegungungan Sindoro-Sumbing selama ini dalam mengeksploitasi lingkungan telah mulai dirasakan akibatnya baik oleh masyarakat sekitar maupun masyarakat yang tidak berinteraksi dengan kawasan tersebut secara langsung. Dengan lagu deforestasi yang tinggi, diperkirakan tidak sampai 20 tahun hutan di kawasan tersebut akan habis dan dampak negatif terhadap lingkungan sekitar akan jauh lebih hebat daripada yang ada saat ini. Kondisi kerusakan hutan tersebut harus segera ditangani secara serius baik oleh Pemerintah Daerah setempat maupun oleh Perum Perhutani. Terbukti sudah banyak dampak negatif yang telah dirasakan masyarakat akibat kerusakan lingkungan tersebut.

Ancaman terhadap kerusakan hutan sebenarnya tidak saja mengancam kehidupan manusia, akan tetapi juga mengancam kehidupan satwa dan fauna lainnya. Ancaman terhadap manusia setidaknya bisa berdampak pada aspek sosial, ekonomi dan budaya. Ancaman terhadap satwa dan fauna yakni punahnya beberapa jenis satwa dan fauna langka yang kerugiannya tidak bisa dinilai dengan nilai nominal. Hutan mempunyai fungsi ekologi yang sangat penting antara lain sebagai hidrologi sebagai penyimpan sumber daya genetis sebagai pengatur kesuburan tanah dan iklim serta sebagai penyimpan (rosot) karbon. Kerusakan hutan dengan demikian akan menyebabkan hutan tidak mampu berfungsi sebagaimana yang diharapkan. Pembangunan industri kehutanan merupakan salah satu yang menyebabkan berkurang dan hilangnya fungsi hidro ekologi hutan. Selain itu disebutkan juga bahwa ada empat faktor penyebab kerusakan hutan itu: penebangan yang berlebihan disertai pengawasan lapangan yang kurang, penebangan liar, kebakaran hutan dan alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian atau pemukiman.

d. Berkurangnya Cadangan Air Tanah dan Penurunan Kualitas Lahan

Daerah hulu merupakan kawasan resapan yang berfungsi untuk menahan air hujan yang turun agar tidak langsung menjadi aliran permukaan dan melaju ke daerah hilir, melainkan ditahan sementara dan sebagian airnya dapat diresapkan menjadi cadangan air tanah yang memberikan manfaat besar terhadap ekologi dan ekosistem. Semakin besar kegiatan pembukaan lahan dan pengalihan fungsi lahan dari kawasan konservasi menjadi kawasan produksi tanaman non konservasi akan mendorong peningkatan jumlah/ volume aliran permukaan yang melaju dari arah hulu ke arah hilir. Hal tersebut juga berdampak pada berkurangnya cadangan air tanah pada kawasan tersebut dan berimbas pula pada penurunan kesuburan tanah, karena lapisan top soil pada lahan yang tererosi telah banyak yang hilang melalui aliran permukaan. Penurunan kualitas lahan akan berdampak secara langsung pada penurunan volume dan kualitas produksi tanaman yang dibudidayakan di atasnya.

BAB II

KARAKTERISTIK DAN PERMASALAHAN

 

Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing mempunyai lereng lapangan 4% atau kawasan hutan yang memepunyai ketinggian 2000 meter dpl atau lebih. Litologi yang dijumpai berupa batuan Gunung api Sumbing, lava Gunung Sumbing, dan batuan Gunung api Sindoro. Luas kawasan lindung Sindoro Sumbing mancapai 83.115,54 ha atau sekitar 19.04% dari total luas lahan yang ada (43664.38 Ha).

Kawasan Sindoro-Sumbing merupakan kawasan konservasi yang secara administratif terletak di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Wonosobo, dan Kabupaten Magelang. Pembagian Kawasan Sindoro-Sumbing dibatasi dengan pertimbangan sebagai berikut:

  1. Untuk wilayah yang mempunyai ketinggian lebih dari 2000 m dpl adalah fungsi lindung. Jadi untuk Kawasan Sindoro-Sumbing adalah wilayah yang berada pada fungsi lindung yang mempunyai ketinggian di bawah 2000 m dpl. Kriterianya ditetapkan berdasarkan SK.Mentan No.837/KPTS/II/UM/8/1981 yaitu:
    1. Memiliki kelerengan >40% dan ketinggian > 2000 m dpl
    2. Memiliki skor kelayakan lahan >175 dengan kombinasi kriteria intensitas hujan, kelerengan, ketinggian, dan jenis tanah.
  2. Mempertimbangkan batas administrasi kelurahan tiap kecamatan yang masuk Kawasan Sindoro-Sumbing yang dapat memberikan kontribusi fungsi lindung dan jaringan jalan yang merupakan batasan secara fisik.
  3. Potensi dan permasalahan yang dilihat dari segi kependudukan dan kondisi eksisting guna lahan.

Kawasan pegunungan Sindoro-Sumbing mempunyai sumberdaya lahan, baik itu tanah, iklim, dan topografi, yang sangat beragam. Keragaman sumberdaya lahan tersebut menyebabkan usaha tani dan jenis komoditas yang diusahakan juga berbeda-beda. Beberapa komoditas unggulan seperti kentang dan tembakau banyak dikembangkan di kawasan tersebut meskipun belum  dapat meningkatkan pendapatan petani secara keseluruhan. Hal ini dikarenakan wilayah yang sesuai untuk komoditas tersebut sangat terbatas baik dari sesesuaian lahan (tanah dan iklim) maupun ketersediaan sarana pertanian (air atau irigasi), serta keterampilan petani yang relatif rendah.

Permasalahannya adalah lahan dilereng gunung Sindoro-Sumbing dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar untuk kegitan pertanian intensif yang kurang ramah lingkungan, misalnya dengan penanaman tembakau, sementara kawasan ini lebih difokuskan untuk mewujudkan kelestarian lingkungan. Hal yang mungkin perlu dilakukan untuk mengatasi permasalahan ini adalah perubahan budaya masyarakat yang diarahkan pada pemanfaatan sumber daya alam yang ramah lingkungan, peningkatan kualitas SDM yang meliputi masyarakat sekitar hutan, perhutani, pemerintah daerah, dan stakeholder lain yang melibatkan tokoh masyarakat dan tokoh agama dalam budaya masyarakat.

Kondisi fisik kawasan ini yaitu mempunyai kemampuan untuk menyerap hujan, sebagai sumber utama pembentukan air tanah. Hal tersebut memberikan ruang yang cukup bagi peresapan air hujan pada daerah resapan air tanah untuk keperluan penyediaan kebutuhan air tanah dan penanggulangan banjir. Dilihat secara umum, kawasan Gunung Sindoro-Sumbing ternyata mempunyai sungai-sungai yang berhulu dari bagian utara dan selatan yang merupakan puncak gunung. Oleh sebab itu, daerah di bagian utara dan selatan merupakan daerah yang efektif untuk resapan air hujan yang diharapkan dapat mengisi air bumi (akuifer) yang sangat berguna sebagai sumber air.

Berdasarkan pengamatan visual di lapangan, Kawasan Sindoro Sumbing mengalami kerusakan lingkungan yang parah. Pengambilan gambar di beberapa titik di Desa Butuh, Kecamatan Kalikajar mewakili Kawasan Gunung Sumbing dan Desa Sigedang, Kecamatan Kejajar mewakili Kawasan Gunung Sindoro menunjukkan kerusakankerusakan tersebut.

Gambar 1. Gambar Pembukaan Lahan Pertanian pada Kawasan Gunung Sumbing

Gambar 2. Gambar Pengolahan Lahan Pertanian pada Kawasan Gunung Sumbing

Gambar 3. Gambar Pembukaan Lahan Pertanian pada Kawasan Gunung Sindoro

Kerusakan lahan yang terjadi pada kawasan Gunung Sindoro-Sumbing akan memunculkan permasalahan lingkungan yang lainnya. Meskipun dalam prosesnya akan berlangsung secara bertahap namun akibatnya akan sulit untuk dikembalikan dalam waktu yang singkat. Sumberdaya alam utama, yaitu tanah dan air, pada dasarnya merupakan sumberdaya alam yang dapat diperbaharui, namun mudah mengalami kerusakan atau degradasi.

Selain proses pengelolaan lahan yang kurang memperhatikan aspek konservasi, pola aktivitas yang berlebihan di kawasan lindung atau kawasan hutan juga akan berdampak pada proses kerusakan hutan itu sendiri. Proses eksploitasi vegetasi khas dikedua kawasan tersebut yaitu jenis tanaman Kemlandingan Gunung, sebagai bahan dalam pembuatan arang, juga berdampak negatif pada kondisi kawasan hutan yang ada dikedua kawasan gunung tersebut. Proses pembakaran dan pembalakan liar yang terjadi telah merusak lingkungan ekologis, meskipun suksesi tetap berlangsung, namun proses penurunan kualitas lahan dan potensi ancaman bencana menjadi meningkat.

Pembakaran yang dilakukan secara sistematis sering menggiring pada bencana kebakaran hutan yang sulit ditangani, dan untuk mencapai tingkatan pemulihan kembali kawasan membutuhkan waktu yang cukup lama dan biaya yang tidak sedikit. Laju pertumbuhan penduduk di suatu wilayah menyebabkan kebutuhan akan lahan untuk pertanian dan permukiman meningkat. Dalam kehidupannya penduduk mencari berbagai alternatif dalam rangka memenuhi kebutuhan pokok berupa sandang, pangan dan perumahan. Sementara permintaan akan lahan yang tinggi tidak sebanding dengan lahan yang tersedia, menjadi faktor pendorong masyarakat untuk mencari alternatif lahan di kawasan hutan, bahkan hutan lindung yang seharusnya sebagai kawasan tangkapan hujan (catchment area) pun mereka rusak dan dialihfungsikan sebagai lahan pertanian. Perilaku masyarakat dengan tidak berwawasan lingkungan mendatangkan dampak yang cukup besar tanpa mereka sadari dan berimbas kepada kelangsungan hidup di sekitarnya.

BAB III

STRATEGI MANAGEMEN

 

Berbagai upaya perlu dilakukan untuk mengembalikan kondisi lingkungan pada kawasan Gunung Sindoro-Sumbing. Pemerintah Daerah melalui dinas instansi teknisnya antara lain Kantor Lingkungan Hidup, Dinas Pertanian serta Dinas Kehutanan dan Perkebunan bersama-sama masyarakat setempat melaksanakan upaya-upaya perbaikan kondisi lingkungan Kawasan Sindoro Sumbing.

Alternatif kebijakan yang diambil bisa berupa kebijakan fisik maupun kebijakan sosial ekonomi. Berikut adalah alternatif kebijakan yang dapat diambil:

1. Alternatif kebijakan fisik:

  1. Melaksanakan kegiatan budidaya yang sesuai dengan kaidah konservasi dan karakteristik, serta pengelolaan tanaman yang dapat mengendalikan erosi. Hal ini dilakukan dengan menanam jenis tanaman keras lokal yaitu kemlandingan gunung, cemara gunung dan kaliandra pada batas-batas kepemilikan lahan.
  2. Pemerintah bersama masyarakat dan stakeholder melaksanakan kegiatan perbaikan kawasan secara berkesinambungan dan terintegrasi, dalam bentuk pemberian proyek-proyek rehabilitasi lahan baik secara vegetatif maupun sipil teknis. Jenis tanaman yang budidayakan merupakan tanaman yang cocok dan sesuai untuk dikembangkan di kawasan tersebut, bukan sekedar jenis yang ditentukan oleh juklak juknis suatu proyek.

2. Alternatif Kebijakan Sosial ekonomi dan budaya:

  1. Melaksanakan kegiatan sosialisasi dan pembelajaran mengenai pemahaman lingkungan hidup pada masyarakat di kawasan Sindoro-Sumbing melalui lembaga-lembaga yang ada di masyarakat.
  2. Pemerintah dalam hal ini Dinas teknis terkait yaitu Dinas Pertanian dan Perkebunan memberikan alternatif komoditas/ jenis tanaman pengganti dari budidaya komoditas yang tidak ramah lingkungan dengan komoditas yang ramah lingkungan.
  3. Melakukan kegiatan rehabilitasi lahan tanpa menunggu program/ proyek dari pemerintah
  4. Penyusunan rencana pengelolaan kawasan Sindoro-Sumbing berdasarkan potensi sumberdaya yang tersedia oleh pemerintah daerah dengan mengikusertakan seluruh stakeholders
  5. Peningkatan partisipasi masyarakat melalui pelibatan aktif dan pengawasan pelaksanaan sampai kepada pengawasan dan evaluasi oleh semua stakeholders sesuai dengan peranan dan fungsi masing-masing dalam upaya pengelolaan kawasan
  6. Penegakan hukum terhadap masyarakat/ anggota masyarakat yang melanggar peraturan yang ada.

Berdasarkan sasaran strategi prioritas, alternatif kebijakan yang dipilih adalah sebagai berikut:

  1. Melaksanakan kegiatan budidaya yang sesuai dengan kaidah konservasi yaitu dengan membuat sistem terasering yang searah kontur serta pengelolaan tanaman yang dapat mengendalikan erosi, yaitu dengan penanaman secara tumpangsari antara tanaman semusim dengan tanaman tahunan.
  2. Pemerintah bersama masyarakat dan stakeholder melaksanakan kegiatan perbaikan kawasan secara berkesinambungan dan terintegrasi, dalam bentuk pemberian proyek-proyek rehabilitasi lahan baik secara vegetatif maupun sipil teknis.
  3. Melaksanakan kegiatan sosialisasi dan pembelajaran mengenai pemahaman lingkungan hidup pada masyarakat di kawasan Sindoro-Sumbing melalui lembaga-lembaga yang ada di masyarakat.
  4. Pemerintah memberikan alternatif komoditas/ jenis tanaman pengganti dari budidaya komoditas yang tidak ramah lingkungan dengan komoditas yang ramah lingkungan.
  5. Peningkatan partisipasi masyarakat melalui pelibatan aktif dan pengawasan pelaksanaan sampai kepada pengawasan dan evaluasi oleh semua stakeholders sesuai dengan peranan dan fungsi masing-masing.
  6. Memadukan sistem pertanian dan pelestarian sumberdaya alam, dengan memilih tanaman semusim dan tanaman tahunan yang saling menguntungkan.
  7. Melibatkan petani dan penyuluh dalam identifikasi masalah di lapangan, perencanaan, serta pemilihan dan penerapan teknik konservasi tanah dan air.
  8. Meningkatkan peran Departemen Pertanian dalam konservasi tanah dan rehabilitasi lahan, karena konservasi tanah memerlukan penanganan yang terintegrasi antarsektor. Departeman Pertanian memang belum diberi mandat secara formal dalam penanganan konservasi untuk mengembangkan sistem usaha tani konservasi.

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan

Kesimpulan yang diperoleh berdasarkan hasil analisa yang telah dilakukan adalah sebagai berikut:

  1. Kondisi lingkungan di Kawasan Gunung Sindoro-Sumbing masih jauh dari fungsi konservasi dengan laju erosi dan Tingkat Bahaya Erosi (TBE) yang sangat tinggi.
  2. Faktor-faktor penyebab kerusakan lahan di kawasan Gunung Sindoro-Sumbing adalah:
    1. Adanya pemahaman yang sudah membudaya pada masyarakat untu selalu menanam tembakau pada setiap musim tanam, sehingga membentuk konsep pemikiran yang kurang bijaksana baik dari segi konservasi maupun ekonomi.
    2. Adanya ketergantungan yang kuat akan produk hutan berupa kayu bakar maupun bahan baku arang yang dimanfaatkan untuk mengurangi tekanan ekonomi akibat kegagalan usaha budidaya tanaman tembakau, telah membentuk rantai masalah proses kerusakan lingkungan di kedua kawasan gunung tersebut
    3. Kebakaran hutan yang sering terjadi di dalam kawasan hutan yang berada pada kawasan Gunung Sindoro-Sumbing.
    4. Tingkat kesadaran masyarakat yang ada saat ini belum terwujud dengan baik, komitmen dan persepsi mengenai arti pentingnya kawasan konservasi di kedua kawasan gunung tersebut terbatas pada kelompok-kelompok masyarakat tertentu
    5. Dukungan kebijakan dan program terpadu dari pemerintah belum menunjukkan hasil yang nyata, penetapan kedua kawasan gunung tersebut sebagai kawasan konservasi baru dituangkan dalam RTRW tahun 2007 sehingga implementasi kebijakan belum dapat dikaji keberhasilannya dan sejauhmana pelaksanaan program pemerintah dalam memperbaiki kondisi sosial ekonomi masih dalam batas visi dan misi.
    6. Berdasarkan pengamatan dan analisa data yang dlakukan bahwa kondisi lingkungan kawasan Gunung Sindoro-Sumbing masih berpeluang untuk dilakukan perbaikan, hal ini dilakukan berdasarkan pada proporsi nilai kerusakan lingkungan yang ada, sebagai salah satu contoh yaitu adanya lembaga masyarakat pemuda yang secara intensif melaksanakan kegiatan yang berkaitan dengan penyelamatan lingkungan.

4.2 Saran

Berdasarkan hasil pengamatan yang dilaksanakan dari kajian pada beberapa aspek, terdapat beberapa hal yang dapat direkomendasikan dalam usaha perbaikan dan penyelamatan lingkungan pada kawasan Gunung Sindoro-Sumbing yaitu sebagai berikut:

  1. Membuat Rencana Detail Pengelolaan Kawasan Sindoro-Sumbing, meliputi:
    1. Membangun kawasan Gunung Sindoro-Sumbing menjadi kawasan agrowisata, yang merupakan tujuan wisata dengan daya tarik komoditas perkebunan (teh atau tembakau) dan juga keindahan alamnya.
    2. Melakukan/ menerapkan konservasi yang disesuaikan dengan kondisi lahan dan masyarakat serta jenis tanaman lokal yang ada. Dengan kondisi terasering yang belum sempurna dapat dilakukan penyempurnaan dengan melakukan pembuatan saluran teras, penanaman tanaman penguat teras. Jenis tanaman penguat teras yang dapat ditanam antara lain kaliandra dan rumput gajah. Penanaman jenis tanaman tersebut diatas, selain fungsi utamanya sebagai penguat teras juga dapat memberikan keuntungan ekonomis lain seperti rumput sebagai pakan ternak dan sebagai pupuk alami.
    3. Membuka peluang bagi keterlibatan berbagai pihak baik masyarakat, pemerintah maupun swasta dalam pengelolaan kawasan Sindoro-Sumbing pada setiap tahapan manajemen mulai dari perencanaan sampai pada monitoring evaluasi.
    4. Peningkatan peran serta masyarakat secara aktif dan berkesinambungan dalam suatu organisasi non formal yang mendapat dukungan dari pemerintah daerah dalam upaya perbaikan lingkungan pada kawasan Gunung Sindoro-Sumbing. Pembentukan inisiatif dan pembangunan motivator dari tingkat paling bawah, dalam hal ini masyarakat, diharapkan dapat mengurangi benturan kepentingan dan menjadi katalisator dalam proses perbaikan lingkungan di kawasan kedua gunung tersebut.
    5. Implementasi yang dilaksanakan harus didasari dan diawali dari pendekatan ekonomi, sosial, dan budaya secara komprehensif serta perlu dipersiapkan konsep pasca kegiatan agar mampu menggeser pola pikir yang konvensional menjadi pola pikir yang lebih maju dan bijaksana.
    6. Perlu dibentuk suatu badan khusus untuk menangani dan mengelola kawasan Sindoro-Sumbing di tingkat Kabupaten, yang terdiri dari unsur-unsur terkait dan atau lembaga-lembaga yang berkaitan dengan kegiatan penyelengaraan dengan dibawah koordinasi Kantor Dinas Lingkungan Hidup sebagai Lembaga Resmi yang ditunjuk dan dipilih oleh Pemerintah Daerah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: