Bukan Fiksi

Catatan seorang wanita yang BAHAGIA

“Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”

leave a comment »

Setiap kali wisuda, sejak TK, SD, SMP, hingga SMA, saya selalu menyanyikan lagu Pahlawan Tanpa Tanda Jasa yang merupakan satu dari lagu wajib nasional ciptaan Bapak Sartono.

Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku
Sebagai prasasti terima kasihku
Tuk pengabdianmu

Engkau sabagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsa
Tanpa tanda jasa

Pahlawan tanpa tanda jasa yang dimaksud dalam lagu ini adalah guru. Ya, guru memang lah seorang pahlawan, pahlawan yang memberantas kebodohan. Tapi mereka tidak pernah mendapatkan penghargaan atau tanda jasa sebagai seorang pahlawan.

***

Saya sekarang tidak lagi menginjak bangku sekolah. Di kampus, yang banyak saya temui hanyalah dosen. Ada beberapa dosen yang juga saya anggap sebagai “guru”, tapi tidak lah banyak.

Setelah kurang lebih 1,5 tahun saya menjalani aktivitas kuliah saya sebagai seorang mahasiswa Fakultas Pertanian. Sekarang saya memiliki seorang “pahlawan tanpa tanda jasa” yang baru. Dia adalah Bapak dan Ibu petani. Mereka adalah pahlawan yang memberantas kelaparan.

***

Kebutuhan akan pangan merupakan salah satu kebutuhan primer bagi manusia disamping sandang dan papan. Mungkin seiring berjalannya waktu, beberapa orang memperluas kebutuhan primer mereka, sehingga handphone, televisi, dan beberapa barang yang dulu termasuk dalam kategori mewah menjadi suatu kebutuhan primer baginya. Tapi, walau bagaimana pun juga, pangan tetap lah kebutuhan primer yang sangat utama. Kita tidak bisa bertahan hidup tanpa makanan dan minuman, aktivitas kita juga akan terganggu bila kita kekurangan pangan.

Dari mana kita mendapatkan bahan pangan yang setiap hari kita konsumsi? Dari sapa lagi kalau bukan dari tanaman. Ya, kita bukan vegetarian, kita juga mengkonsumsi daging. Tapi, hewan-hewan penghasil daging mendapatkan pakannya dari tanaman juga. Artinya, tanaman merupakan sumber pangan utama bagi manusia.

Nah, tanaman, perlu dibudidayakan agar bisa memenuhi kebutuhan pangan manusia. Siapa yang membudidayakan tanaman? Siapa lagi kalau bukan Bapak dan Ibu petani. Petani sangat berjasa bagi kita semua, meskipun kadang kita tidak sadar akan jasanya dan malah mencemoohnya.

Dulu, saat masih bertitel mahasiswa baru (maba) di Fakultas Pertanian, saya pernah merasa malu dengan teman-teman saya yang bisa kuliah di fakultas yang “keren” seperti Fakultas Kedokteran, Fakultas Ekonomi, Fakultas Teknik, dan sebagainya. Tapi, lama-kelamaan, saya menjadi bangga menjadi seorang “petani”. Selama manusia masih ada di dunia ini, petani akan selalu dibutuhkan. Petani adalah “pahlawan tanpa tanda jasa” yang bahkan tidak pernah diberi “lagu” sebagai ucapan terima kasih padanya.

Semoga petani-petani khususnya di Indonesia kita tercinta ini bisa lebih dihargai dan tidak lagi dianggap remeh. Syukur-syukur kalau petani dibuatkan lagu wajib nasional seperti para guru.🙂

 

Le Gra,

Hajroon Jameela.

 

UPDATE

Sebagai Mahasiswi Pertanian, saya juga pernah merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang petani. Walaupun, lahan yang saya garap cukup kecil dan dikerjakan secara kelompok, di mana satu kelompok terdiri dari 12 orang. Saat itu saya dan kelompok saya mendapat tugas untuk membudidayakan tanaman padi. Tanaman padi termasuk tanaman yang teknik budidayanya cukup susah dibandingkan tanaman lain seperti jagung, ubi jalar, kacang panjang, kangkung, dan puluhan tanaman lainnya. Kami harus menggarisi tanah yang berlumpur dengan susah payah. Setiap satu minggu sekali kami harus mencabuti gulma yang pertumbuhannya jauh lebih cepat dari tanaman padi itu sendiri. Kami juga harus mengukur panjang daun dan jumlah anakan tiap sampel tanaman dimana sampel yang digunakan sebanyak 50 tanaman. Mungkin untuk bagian ini petani sungguhan tidak melakukannya, tapi untuk bagian lainnya, apa yang kami lakukan tidak ada tandingannya dengan apa yang petani sungguhan lakukan.

Semua perasaan lelah menjadi tak terasa saat kami membayangkan padi-padi kami mulai berbunga dan bisa menghasilkan beras. Meskipun beras yang kami dapat hanya satu karung, rasa puas dan rasa bahagia kami mengalahkan segalanya. Benar-benar pengalaman yang tak tergantikan.

Someday, saya ingin juga mencoba menjadi “guru”.🙂

Written by Hajroon Jameela

February 4, 2011 at 8:44 pm

Posted in Opini Saya, Pertanian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: